Edisi saya dulu ahh…mo Ultah nih dalam rangka. Eng…ing…eng…
Tanggal 13 Januari 2005, kami meninggalkan Indonesia untuk meraih satu warna, untuk melukiskan satu lagi warna pelangi keluarga kami di negeri Adikuasa ini. Bismillah…kaki melangkah jauh, meninggalkan hujan air mata seluruh keluarga pun membawa doa dan harapan mereka. Semoga kelak berjumpa pula…(lagu sapa ya?)
15 januari jam 9 malam sampe di rumah sini (kenapa nyebut rumah?bukan apartemen seperti umumnya? karena bentuk rumah kami seperti pemukiman perumahan di Indonesia, tuh gambar header diatas:) ). Di North Village Amherst Massachusetts USA.
Mulai saat itu kehidupan baru dimulai, indah ada putih salju, leuwang, masih merasa khawatir, bisakah hidup disini? Amankan? Nyamankah? Sehatkah? .
Ini lah keluh dan peluh selama setaun ini.
1. Jauh dari keluarga dan saudara yang selama ini selalu ada ketika perlu, selalu ada untuk berkeluh, berbagi suka duka. Dan pun kekhawatiran “akankah bertemu kembali?”…ah semoga!!
2. Disini, agama kami adalah minoritas. Tak banyak teman seagama, tak ada kumandang adzan, tak ada semarak takbir jika lebaran…semoga kami bisa menguatkan identitas kemusliman disini pun dengan ibadah, walopun dan walopun.
3. Jauh dari teman dan sahabat…oh I miss you a looooottttt girlsssssss.
4. Urusan rumah diurus sendiri, masak dan tetek bengeknya. Tak ada Teh Dedeh yang bisa dimintain tolong ke pasar, ngepel, cuci piring atau sekedar ganti diapers Ai misalnya…ahhh…kuatkan kaki dan punggung! siap grak!.
5. Shock culture, walopun tidak terasa sangat, tapi tetep kaget ketika melihat hal “aneh2 antara laki dan perempuan” dijalan Atau antara tetangga saling tak kenal dan tak peduli. Atau tiba2 orang dijalan menyapa How are you padahal nggak kenal sama sekali hehe.
6. Kendala Bahasa, english saya sangat tidak bagus. Pertama kali kesini sangat ketakutan ketemu orang. Takut ditanya gak bisa jawab hihi. Terus masih terkaget2 ketika orang mengawali kalimat dengan “you know….you know…” padahal kan saya tak tau apa2 kok langsung ditodong “you know” hihi
7. Tak ada angkot dan kami tak punya mobil. Sehingga alat transportasi yang digunakan adalah bus, yang disini bus ini hanya untuk menjembatani kepentingan mahasiswa, jadi ketika mahasiswa libur bus pun libur, dan bus ini terjadwal dengan jadwal yang lumayan lama jarak satu bus dengan bus lain (bus belanja sejam sekali), bus hanya ada dijalur2 tertentu pun bus stop di tempat2 tertentu, kadangkala menuju tempat2 tujuan memerlukan jalan kaki yang tak dekat. Sangat kangen angkot yang kemana aja ada dan bisa berhenti dimana saja
8. Semua sumber pangan, sandang dan papan mahal. Karena hanya student, yang ternyata pendapatan bersih masih mendingan di Bandung deh hehe ngarti lah nya!
9. Tak ada makanan enak yang bisa langsung makan. Kangen emang lewat, warteg, warung makan jeuuuunggggg sajabana alias de-es-be. Komo Baso eh formalin ya hehe mana peduli yang begituan dulu mah…
Kini setelah setaun….selain keluh tentu saja banyak juga bahagia dan hikmah yang didapat, berikut….
1. More Independent, jauh dari keluarga besar membuat kami belajar untuk melakukan segalanya sendiri, lebih dalam arti mental, karena kalo fisik sih selama ini juga mandiri kok
2. Karena harus beberes, urus ini urus itu, anak2 jadi lebih mandiri *bermain khususnya*. Dan Ibunya pun jadi kuat kaki dan punggung hehe.
3. Sejak gabung dengan family center, saya punya kegiatan berarti dengan anak-anak, semua staff disana welcome, sesama orang tua akrab, saling berbagi, bercerita dan saling berusaha membantu. Disanalah tempat saya merasa nyaman, punya teman, bisa ngobrol english, banyak baby yang bisa diajakin main sementara anak2 saya main sendiri atau kadangkala dengan volunteer dan guru2.
4. Sudah punya banyak tetangga, bisa potluck-an atau saling kirim makanan, punya temen ngobrol, anak2 bisa maen bareng…
5. Alhamdulillah english saya membaik, walopun tidak memenuhi target, yang tadinya setaun itu diharapkan bisa ngobrol english seperti saya ngobrol sunda *saumur2 sepertinya tak akan berhasil deh hihi*. Ya tapi lumayan lah sekarang sudah bisa bergaul, bisa ikutan parenting class, ikutan banyak program yang bagus.
6. Sering jalan kaki membuat saya sehat, karena secara tak sadar itu olahraga kan. Anak2 juga tidak manja dan itu salah satu media pendidikan mental bagi mereka *mengihibur diri.com*.
7. Uang hanya cukup untuk makan. Alhamdulillah cukup tak kurang, anak2 tak biasa minta mainan dan beli mainan,nikmati yang ada dan belajar menahan diri jika keinginan tak terpenuhi segera. Tak mudah untuk mendapatkan sesuatu itu Nak…:)
8. Mudah untuk mendapatkan makanan enak, hanya perlu usaha sedikit *yang banyak sih butuh kemauan hihi* ke dapur racik sana-sini…dan jadilah. Dulu mamah saya sempat khawatir saya gak bisa apa2 kalo dah nikah…sekarang? bolehlah dibanggakan sama beliau, walopun belum bisa mengalahkan rasa masakannya:). Sono pisaaannnn Mahhhh…
9. Bisa Online, sehingga bisa nge-blog, bisa punya banyak teman di pelosok dunia, menjalin persaudaraan…ah indahh…
10. Eh hampir lupa “ini Amerika nyi…” bukankah tak semua orang punya kesempatan merasakan hawa negara ini. Nah nikmati sebagai pengalaman….Hentikan keluhan dan Bahagialah, karena ini pilihan terbaik. Insya Alloh. MERDEKA.
YA semua ini tak lepas dari komponen penting keberadaan keluarga Indonesia seputar Amherst. Mba Susan dan family, Mas Utama, Mas Beebach, Mba Yulia dan keluarga dll. Terima Kasih Banyak….